Tampilkan postingan dengan label KISAH SUKSES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH SUKSES. Tampilkan semua postingan

Kisah Para Mantan TKI yang Memanen Sukses di Tanah Air


"SAYA hidup dalam mimpi," kata Nuryati Solapari, 31, mantan TKI asal Subang. Tangan mantan babysitter di Arab Saudi itu bergetar. Matanya berlinang ketika didaulat berpidato singkat di Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra), Jalan Medan Merdeka, Jakarta, kemarin (16/12).
Nuryati merupakan seorang di antara 12 finalis Indonesia Migrant Worker Award 2010, ajang penghargaan bagi mantan TKI yang dinilai sukses setelah pulang ke tanah air. Kemenko Kesra dan UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia akan memilih tiga eks TKI yang paling berprestasi dalam tiga kategori.

Tiga kategori itu adalah penghargaan Purna-TKI Wirausaha untuk TKI yang beralih menjadi pengusaha, Remitansi Produktif untuk keluarga TKI yang berhasil memanfaatkan uang kiriman sebagai kegiatan produktif, serta Purna-TKI Motivator untuk mereka yang patut menjadi teladan bagi para buruh migran.
Selain Nuryati yang kini berprofesi sebagai dosen, finalis lainnya adalah Imam Nahrowi (membangun pasar TKI), Mahfud (guru bahasa Korea dan petani), Nanang Dwi Saputro (instruktur pelatihan dan produsen sol sepatu), Septiana (pengusaha bengkel motor dan ruko), dan Anton (pengusaha kerajinan tangan).
Kemudian, Henny Yusiati (pengusaha alat tulis kantor), Siti Maryam (pengusaha video shooting, salon, dan warung), Siti Masrofah (pemilik jasa pengiriman tenaga kerja), Wahyudin (eksporter mebel), Fatimah Sirajudin (usaha pertanian, peternakan, dan jasa persewaan TV kabel), serta Zaharuddin Ahmad (pengusaha mebel dan pertanian).

Di antara 12 finalis tersebut, kisah Nuryati terbilang paling unik dan dramatis. Wanita berjilbab yang kini menjadi dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Serang, Banten, itu semula merupakan TKW (tenaga kerja wanita) di Arab Saudi. Selama tiga tahun (1998?2001) dia rela menjadi babysitter.
Dia mengaku tak pernah membayangkan akhirnya menjadi pembantu rumah tangga di tanah rantau setelah lulus SMA. Sebab, perempuan kelahiran 2 Juni 1979 itu adalah lulusan terbaik SMA Prisma, Serang, Banten. Bahkan, sejak kelas satu dia langganan juara dan mendapat beasiswa.
Namun, kenyataan berkata lain. Orang tuanya tak punya biaya untuk menguliahkan dia. Apalagi lima adik Nuryati juga harus bersekolah. Penghasilan ayahnya yang merupakan pegawai rendahan tak mampu untuk membiayai kuliah Nuryati. "Setelah mempertimbangkan masak-masak, akhirnya saya bulatkan tekad untuk berangkat menjadi TKI di Arab Saudi," terang istri Agus Setiawan itu.
Tapi, Nuryati tidak berangkat dengan kepala kosong. Dia memendam impian untuk bisa berkuliah setelah pulang dari mengumpulkan uang dari pekerjaannya di Arab. Karena itu, hampir separo isi koper yang dibawa ke Arab adalah buku-buku pelajaran SMA serta buku pengetahuan umum. Dia ingin tetap bisa terus belajar meski tidak di bangku formal.

"Untuk memuluskan proses pekerjaan di Arab, saya dipaksa mengaku sebagai lulusan SD," tuturnya.
Beruntung, Nuryati akhirnya diterima bekerja di keluarga dokter. Bahkan, karena dinilai well educated, dia kerap diminta mendampingi putri sang majikan saat belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Dia juga mendapat izin tidur siang dan meluangkan waktu untuk membaca buku.
Selama bekerja di Arab, Nuryati berusaha berdisiplin dalam berbagai hal. Termasuk dalam pembukuan gaji yang dia terima. Bahkan, dia selalu meminta kuitansi pembayaran gaji yang ditandatangani sang majikan. Dengan cara begitu, dia bisa tahu berapa gaji sebenarnya yang diterima setiap bulan.
Selain itu, untuk keselamatan pribadi, nomor-nomor telepon penting, seperti nomor konsulat dan kedutaan dicatatnya dengan sulaman berkode khusus di kerudung yang selalu dipakainya ke mana-mana. Angka nol, misalnya, ditulis dengan kode matahari. Angka 1 dengan kode pohon kelapa, dan seterusnya. "Alhamdulilah, hal yang saya khawatirkan selama bekerja di sana tidak menimpa saya," terangnya.
Setelah dua tahun dan 8 bulan bekerja, Nuryati secara tidak sengaja menyaksikan acara wisuda di Universitas Al Azhar di televisi lokal. Hasrat untuk pulang pun menggebu-gebu. Ibu Bintang Hafizh Setiawan, 4, dan Bunga Qarira Lituhayu, 1, itu pun berpamitan kepada majikan untuk pulang ke Indonesia.

Hanya tiga hari setelah mendarat kembali di tanah air, Nuryati langsung mengikuti tes masuk Fakultas Hukum Universitas Tirtayasa. Dia pun dinyatakan lulus.

Perjuangan dia belum selesai sampai di situ. Sambil kuliah, dia bekerja di Pizza Hut Cilegon dan menjajakan makanan katering. Dia pun harus belajar secara sembunyi-sembunyi di toilet Pizza Hut. "Setiap kali saya sedang belajar, saya taruh tanda "toilet dalam perbaikan" agar tidak mendapat teguran atasan," kenangnya lantas tersenyum.
Kecerdasan dan ketekunan yang dijaganya membuat Nuryati mampu lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7 dan meraih predikat cum laude. Dia lulus dalam waktu tiga tahun. "Saya kemudian menjadi satu-satunya sarjana di kampung. Hidup saya pun berubah drastis dan menyenangkan," terangnya.

Empat tahun kemudian, Nuryati menyabet gelar master bidang hukum dari Universitas Jayabaya, Jakarta. Nuryati berhasil meraih sertifikat advokat dari Persatuan Advokat Indonesia, namun kemudian memutuskan untuk mengabdi di almamaternya, Untirta, sebagai dosen.

Berkat kisah perjuangannya yang berliku, Nuryati kerap mendapat undangan menjadi pembicara dalam seminar-seminar tentang ketenagakerjaan. "Sekarang saya menempuh studi doktoral di Universitas Padjajaran Bandung," kata Nuryati yang kini juga aktif dalam gerakan advokasi hak-hak TKI.

Cerita Imam Nahrowi lain lagi. Mantan TKI Korea Selatan itu kini menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya, Way Jepara, Lampung Timur. Imam memiliki toko bahan bangunan, ruko, dan aset lain senilai total Rp 2,1 miliar. Namun, yang membuatnya tersohor adalah suksesnya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Dia mendirikan pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI. "Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha," katanya.

Sukses pria yang orang tuanya berasal dari Blitar itu bisa menjadi contoh dan pelecut para TKI yang ingin sukses di kampung halaman. Pada 2000, Imam bekerja pada perusahaan tekstik di Korsel. Pria yang kini menjabat ketua umum Gerakan Pemuda Anshor Cabang Lampung Timur itu dikontrak dua tahun hingga 2002.

Selama bekerja di Korea, Imam mendapatkan gaji Rp 5 juta per bulan. Sebagian gaji tersebut dia tabung, sebagian dia kirimkan untuk modal usaha di kampung.

Pada akhir 2002 Imam menyelesaikan kontrak kerjanya dan memilih pulang ke Lampung. Dengan tabungan Rp 50 juta, Imam mendirikan toko alat bangunan. Keuletannya dalam bekerja membuat keuntungan berlipat dan kepercayaan konsumen naik tajam. Selain masyarakat umum, sebagian besar pelanggan toko Imam adalah mantan TKI dan keluarga TKI. Kini, tokonya beromzet Rp 140 juta per tiga bulan.

Tak berhenti sampai di situ, Imam pun terpanggil untuk mendorong TKI lain menggapai sukses seperti dirinya. Karena itu, dia mendirikan pasar TKI. Pasar itu didirikan khusus untuk TKI dan harus dicicil dengan uang kiriman TKI dari luar negeri. Tujuannya, "memaksa" para TKI tidak menghabiskan uang hasil jerih payahnya untuk bahan konsumsi semata, tapi juga untuk berwirausaha setelah pulang nanti.

Imam prihatin dengan sikap sebagian besar TKI. Menurut dia, ketika masih bekerja di luar negeri mereka membangun rumah besar dan mentereng di kampung. Namun, beberapa tahun setelahnya mereka mulai menjual hartanya karena terlilit utang. "Karena itu, saya dirikan pasar TKI. Ini saya dedikasikan untuk memotivasi para TKI agar ingat masa depannya setelah pulang nanti," tandasnya.

By korean insight with No comments

Mantan TKI Miliki Aset Bisnis Milyaran Rupiah


Kesuksesan bisa diraih siapa saja asal ada kemauan yang kuat, termasuk oleh Santoso, seorang mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Korea dan Jepang yang saat ini menjadi pengusaha yang sukses di bidang jual beli motor, properti, tambang dan sembako.

Bahkan dalam tiap bulan, omset pria kelahiran 3 April 1968 ini bisa mencapai Rp 5 milyar. Kesuksesan yang dia capai sekarang tidak diraihnya begitu mudah, diapun berjuang dari nol. Berikut ini adalah kisah hidupnya.

Santoso bekerja di Korea tahun 1995. Sekembalinya dari Korea, dia kemudian membuka usaha di bisnis sayuran, yakni mensuplai sayur- sayuran ke berbagai pasar di wilayah Lampung. Namun karena krisis moneter 1997 usahanya tersebut pun sempat mengalami bangkrut.

Tak ada kata menyerah dari bapak tiga anak ini, lalu dia kembai menjadi TKI yang ebrangkat ke Jepang pada tahun 1998 hingga 2000. Dia bekerja di perusahaan alat berat di Kobe, Jepang.

Sepulang dari Jepang, Santoso juga tidak langsung memulai usahanya. Terlebih dahulu Santoso mensurvey usaha-usaha yang akan ia geluti. Setelah cocok barulah ia memulai usaha jual beli mobil.

“Dari Jepang saya memiliki uang Rp 70 juta. Uang tersebut tidak saya pakai semua, saya kemudian membuka usaha jual beli mobil. Modal pertama yang saya keluarkan sekitar Rp 20 juta pada tahun 2004,” cerita Santoso sambil mengenang masa lalunya.

Usahanya ini kemudian berhasil. Dalam sebulan dia bisa menjual 15 unit mobil, baik bekas maupun baru. “Dari 1 unit mobil yang dijual, saya dapat untung Rp 2 – 5 juta. Jika dihitung dalam sebulan saya dapat untung hingga Rp 50 juta rupiah,” paparnya.

Selain jual beli mobil, suami dari Suryani ini memiliki usaha lainnya, seperti usaha sembako, properti dan tambang. Semua usahanya ini ia pimpin sendiri , dibantu dengan pegawai-pegaiwainya.

Dari ketiga usahanya inilah kemudian dia bisa meraih omset Rp 50 juta hingga Rp 100 juta, itu belum termasuk omset properti yang dalam sebulan bernilai antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

Yang patut dicontoh dari seorang Santoso adalah meski sudah menjadi pengusaha sukses, Santoso berkiinginan untuk terus melakukan ekspansi bisnis.

“Untuk ekspansi bisnis ini saya terus menggandeng kawan-kawan TKI lainnya. Saya ingin semua TKI sukses bisa sukses,” tutup pria lulusan FKIP Unila ini.


By korean insight with No comments

Budiyanto, Raih Omset Rp 500 Juta per Bulan


Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Korea ini bisa dibilang sangat sukses. Betapa tidak, sepulang dari Korea, Budiyanto bisa membangun usaha toko bangunan (material) dengan omset yang lumayan besar. Tidak tanggung-tanggung omset toko bangunan milik Budiyanto mencapai Rp 500 juta perbulan.


Mungkin sebagain orang tidak ada yang menduga dengan kisah sukses mantan TKI Korea yang satu ini. Tetapi, Budiyanto TKI purna asal Desa Sidomulyo, Lampung Selatan ini bisa membuktikannya. Ia kini hidup sejahtera dengan usaha yang digelutinya.

Bidiyanto adalah mantan TKI Korea. Ia bekerja di pada tahun 1998 sampai dengan 2000. Setelah kontrak pertamanya selesai, lelaki asal Lampung ini kembali bekerja ke Korea sebagai TKI.

Pada 2002 hingga 2004, ia kembali bekerja disebuah pabrik Korea dengan gaji sebesar Rp 8,5 juta perbulannya.

“Waktu itu saya berangkat ke Korea masih melalui Pelaksana Penempatan TKI Swasta (PPTKIS). Ketika itu belum ada BNP2TKI,” ujar lelaki yang biasa disapa Budi ini.

Empat tahun lamanya bekerja di Korea, Budi tentunya tidak ingin sisa hidupnya dihabiskan bekerja sebagai TKI. Berbekal dengan uang tabungan selama bekerja di Korea, Budi kemudian mulai merintis usahanya.

“Ketika itu uang hasil kerja di Korea tidak saya habiskan. Sebagian uangnya saya belikan tanah, sawah, dan kebun. Kemudian ketika saya mau mulai merintis usaha, tanah, sawah, dan kebun itu saya jual. Uangnya dipakai untuk modal bangun usaha ini,” ujar Budi sambil menunjuk toko materialnya yang besar itu.

Untuk memulai usahanya, Budi mengaku menghabiskan modal sekitar Rp 800 juta. Uang tersebut ia peroleh dari hasil penjualan tanah-tanahnya dan sisa tabungan selama bekerja di Korea.

“Modalnya memang cukup besar, saya harus membeli tanah yang letaknya strategis untuk usaha ini. Saya juga harus membangun ruko untuk tempat usaha. Belum lagi saya harus membeli barang-barang untuk dijual,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, pada 2003 toko bangunan miliki Budi berdiri. Ia memberi nama toko dengan Budi Jaya. Toko material milik Budi menjual berbagai kebutuhan untuk bangunan seperti semen, cat, pasat, genteng, kayu, batako, dan lainnya.

“Terus terang omsetnya cukup besar, dalam sebulan omset toko ini bisa mencapai Rp 500 juta. Ini benar-benar diluar dugaan. Omset itu saya peroleh tidak hanya dari pembeli, ada juga perusahaan swasta yang jadi pelanggan,” papar Budi.

Budi mengatakan penghasilan terbesar dari jualan tokonya adalah semen. Dalam seminggu toko milikinya bisa menjual semen 300 hingga 400 sak.

“Selain semen, menejelang lebaran ini yang lumayan laku adalah cat tembok. Mungkin banyak orang yang ingin mengganti cat rumahnya agar terlihat beda saat lebaran nanti,” urainya. 


By korean insight with No comments

Bermodalkan Rp140 Juta, Mantan TKI Buka Usaha Penggilingan Padi

Pulang dari bekerja di Korea , Herman Koni (34) segera menekuni usaha penggilingan padi. Dengan bermodalkan Rp140 juta hasil tabungannya selama 2 (dua) tahun bekerja (1998-2000), Herman selain membeli sawah, juga membeli 2 buah traktor dan mesin giling padi.


“Semua hasil penggilingan padi, jadi uang,” ujar Herman menceritakan pengalamannya ketika menerima kunjungan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlidungan Tenaga Kerja Indonesia (BN2TKI), Moh Jumhur Hidayat di desa Awal Terusan, Sekip Padang, Kabupaten Ogan Ilir, Sabtu (21/8).

Menurut Herman yang menjadi TKI Korea melalui PT Mega Buana, bisnis yang ditekuni bersama istrinya ini cukup memberikan hasil yang bagus.

Dari upah menyewakan dua traktor saja, per bulan ia bisa mengantongi pendapatan bersih Rp 4,5 juta. Belum dari hasil jual dedek (kulit gabah).

“Dari dedeknya, saya bisa dapatkan hasil tambahan Rp 2juta per bulannya,” aku Herman dengan bangga.

Kepada Kepala BNP2TKI, Herman yang sempat menjadi Kepala Rumah Tangga (RT) di desanya selama 5 ( lima ) tahun ini menceritakan kuatnya system ijon. Kendalanya untuk mendapatkan padi karena ia tak punya modal untuk membeli padi.

“Saya tidak mau mengijoni padi para petani. Itu dosa,” katanya.

Di desanya, Herman menceritakan kelompok tani binaannya yang beranggotakan 20 orang masih menjemur padi di jalan raya. Mengatasi masalah ini, Herman sudah 2 (dua) kali mengajukan proposal ke kantor Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Ogan Ilir.

“Proposal pengajuan dana pembuatan lahan jemur padi seluas 1.000 meter masih belum disetujui Pak Jumhur,” kabari Herman.

Ketika ditanyaka keinginannnya untuk kembali menjadi TKI ke Korea , Herman mengiayakan. “Tapi, pak. Umur saya sudah 34, apa masih bisa?,” Tanya Herman.

Menjawab keinginan Herman, Kepala BNP2TKI mengatakan batasan umur untuk jadi TKI Korea itu 40 tahun. Apalagi bahasa Koreanya masih bagus, Herman masih bisa berangkat melalui BNP2TKI.

“Dulu kamu berangkat lewat perusahaan. Sekarang negara yang memberangkatkan,” terang Jumhur seraya mengharapkan kalau dia jadi berangkat ke Korea , setelah 3 (tiga) tahun pulang bisa mencalonkan diri jadi camat.

Betul pak. Dulu saya bisa jadi Kepala Desa, karena baru pulang dari Korea . Mungkin kalau saya nanti pulang dari Korea , bisa calonkan diri jadi camat atau bupati saja sekalian, Pak!” kata Herman yang disambut tawa rombongan Safari Ramadhan. (bnp2tki)


By korean insight with No comments

Herlan Indrawan, TKI Sukses Korea dengan Tiga Usaha


Herlan Indrawan (36), mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan ini sudah menuai sukses. Sekarang ia memiliki tiga kegiatan usaha, yaitu Kursus Bahasa Korea, Foto Copy dan Percetakan serta batu belah. Dari tiga bisnsinya itu, dalam sebulan Herlan bisa meraih omset Rp 12 juta.

Februari 2000 Herlan pergi ke Korea. Ia bekerja di perusahaan pengecetan mobil Daewoo. Saat bekerja ia mendapatkan gaji sebesar Rp 3, 8 juta perbulannya, sedangkan jika lembur Herlan bisa memperoleh gaji sebesar Rp 7,5 juta perbulannya.

“Bekerja di Korea sangat nyaman semua hak-hak pekerja sangat terjamin dan terpenuhi. Karenaya saya sangat betah disana,” papar Herlan yang mengaku pernah dua kali bekerja di perusahaan Korea ini.

Selama 1 tahun dua bulan ia bekerja di pengecetan mobil Daewo. Kemudian pada pertengahan 2002 ia pindah bekerja pada perusahaan peleburan plastik. Barulah pada 2005 bapak dari tiga anak ini pulang ke kampung halamannya di Lampung Timur.

“Di perusahaan yang kedua saya bekerja selama tiga tahun. Untuk gaji diperusahaan peleburan plastik lebih tinggi dari perusahaan pertama. Dalam sebulan saya bisa memperoleh gaji Rp 4,8 juta dan jika ditambah lembur saya bisa dapat Rp 9-10 juta,” jelasnya.

Setelah pulang ke tanah air, pria kelahiran Lampung Timur, 26 Mei 1974 ini kemudian membukalembaga kursus bahasa Korea. Ia mengaku peluang membuka kursus bahasa Korea sangat menjanjikan karena banyak calon TKI yang ingin bekerja disana.

“Pada 2005 saya langsung membuka kursus bahasa Korea di Metro. Selama berdiri sampai sekarang sudah ada sekitar 400calon TKI yang kursus di tempat saya. Dan sekitar 200 orang mereka kini bekerja di Korea melalui program Government To Government (G TO G) BNP2TKI,” tuturnya.

Dalam melaksanakan operasional lembaga kursusnya, ia dibantu istrinya Amelia Silvana dan seorang pengajar. “Saya bertindak sebagai kepala kursus. Untuk manajemen sudah saya serahkan kepada istri,” paparnya.

Selain membuka kursus, Herlan juga mempunyai usaha foto copy dan percetakan. Ia mengaku usaha foto copy dan percetakannnya dirintis sejak tahun 2003. Saat itu Herlan masih bekerja di Korea dan istrinya yang menjalankan usaha tersebut.

“Modal yang dipakai membuka kursus dan bisnis foto copy dan percetakan saya dapat dari hasil Korea. Alhamdulillah semuanya sekarang berjalan dengan lancar tanpa hambatan,” jelas Herlan yang mengaku mempekerjakanlima pegawai pada usaha foto copy dan percetakan itu.

Selain dua bisnis tersebut, Herlan juga mempunyai usaha batu belah. Usaha ini ia rintis pada pertengahan 2009. Untuk bisnis batu belah, Herlan masih bekerjasama dengan orang lain alias bagi hasil.

“Dari ketiga usaha yang saya geluti setiap bulan saya memperolah omset sekitar Rp 12 juta. Setelah dipotong biaya operasional dan bayar gaji pegawai, perbulannya saya dapat untung Rp 6-7 juta,” tuturnya.


By korean insight with 7 comments

Mugiyanto Sukses Jadi Pengusaha Batako


Tujuh tahun menjadi buruh di Korea, benar-benar tidak disia-siakan Mugiyanto (33 tahun). Bapak satu anak yang tinggal di Dusun Silowan, Kelurahan Pager Sari, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, ini merasa cukup mengais modal dengan tiga tahun menjadi buruh meubel (1997-2000), dan empat tahun menjadi buruh tekstil (2005-2009) sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea. Setelah itu, ia menekuni wirausaha pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan, dan lain-lain.

“Tujuh tahun menjadi TKI merupakan waktu yang sangat singkat untuk mencari modal. Sebab itu, saya tidak menyia-nyiakan waktu yang relatif singkat tersebut untuk bekerja dan menabung. Soalnya, cita-cita saya pulang ke tanah air akan menjalani wirausaha,” kata Mugiyanto di Semarang, Minggu siang (19/12).

Mugiyanto menceritakan, untuk melakoni wirausaha pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan dan beragam jenis lainnya ini, memerlukan modal kurang lebih Rp 200 juta. Rinciannya, untuk tanah tempat memproduksi dan gudang sederhana dibutuhkan uang sebesar Rp 90 juta. Membeli peralatan dan mesin cetak batako, paving, bis beton dibutuhkan uang sebesar Rp 45 juta. Membeli dua unit truk kecil untuk mengantar produk pesanan dan operasional diperlukan uang sebesar Rp 100 juta. Belum terhidung bahan-bahan, seperti pasir, sirtu, dan semen.

“Jadi, untuk memulai membuka wirausaha pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan, dan sejenisnya ini, saya menyiapkan modal kurang lebih sebesar Rp 225 juta. Semua uang saya peroleh dari menabung selama menjadi TKI di Korea,” ungkap Mugiyanto.

“Untuk mencari modal sebesar ini sangat sulit saya dapatkan di kampung, meskipun dengan cara pinjam kredit bank. Untuk bisa pinjam kredit bank, selain ada jaminan kepemilikan, juga masih dicek uji kelayakan usahanya. Wirausaha pemula seperti saya dengan modal ratusan juta, tidak akan mudah mendapatkan pinjam kerdit pada bank,” tambahnya memaparkan.

SMA Ambarawa

Mugiyanto menyadari sekali dengan kemampuan pendidikan yang dimiliki. Ia mengaku, hanya lulusan SMP PGRI di Bergas pada 1994. Kemudian melanjutkan ke SMA di Ambarawa namun tidak sampai tamat alias potol (putus) tengah jalan. “Saya ini cuma lulusan SMP swasta, SMA Ambarawa potol (putus) tengah jalan. Jadi, bisanya ya cuma bekerja sebagai buruh. Tapi saya punya target, bahwa tidak selama bekerja sebagai buruh. Saya ingin usaha sendiri, kalau sudah punya modal,” ungkap Mugiyanto mengenang masa lajangnya dulu.

Pada 1997 itu, kata Mugiyanto, ada lowongan kerja bagian meubel di Korea. “Waktu itu persyaratan bekerja menjadi TKI di Korea tidak seketat seperti sekarang. Tanpa banyak pertimbangan saya langsung mendaftarkan diri dan kemudian diterima,” kata Mugiyanto.

Di Korea itu, lanjut Mugiyanto, ia tiga tahun bekerja di meubel (1997-2000) terus pulang ke tanah air. “Gaji kerja di bagian meubel waktu itu hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari di Korsel. Kalau pun, ada lebihnya hanya bisa untuk pulang ke tanah air,” tambahnya.

Setelah selang lima tahun berada di tanah air, Mugiyanto, ternyata belum juga bisa memulai wirausaha yang dicita-citakannya, memproduksi batako, paving, bis beton, dan kolong selokan itu. Hambatannya, sebut Mugiyanto, pada faktor modal. Namun, ia mengaku, tidak merugi. Selama lima tahun di tanah air, ia manfaatkan dengan belajar mendalami pembuatan batako, paving, bis beton, kolong selokan, dengan bekerja pada orang lain yang dianggapnya lebih ahli.

Walhasil, Mugiyanto pun makin bersemangat mencari modal dengan mengadu nasib sebagai TKI di Korea kedua kalinya. Ia pun kembali menjadi buruh di pabrik tekstil. Kali ini, Mugiyanto mendapatkan gaji lebih besar, Rp 15 juta perbulan. “Saya lakoni jadi buruh tekstil ini selama empat tahun (2005-2009),” kata Mugiyanto. “Saya sudah bertekad, tidak akan memperpanjang kontrak lagi. Saya ingin menekuni wirausaha batako, paving, bis beton, dan kolong selokan,” tambahnya.

Dari wirausaha membuat batako, paving, bis beton, dan kolong selokan ini, Mugiyanto mengaku, mendapatkan untung kurang lebih Rp 5 juta sampai Rp 7,5 juta perbulannya. Tetapi, ia merasa lebih tenang dan bebas mengatur waktu. “Yang penting, kalau ada janji dengan pemesan, harus dilayani tepat waktu,” pungkas Mugiyanto.


By korean insight with No comments

Kisah Mantan TKI Sukses Jadi Pengusaha


VIVAnews - Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tidak selalu dipandang sebelah mata. Sebut Imam Nahrowi, mantan TKI Korea ini kini tergolong pengusaha sukses di kampung halamannya Way Jepara, Lampung Timur.

Imam memiliki toko material (bahan bangunan), ruko dan aset lainnya yang jika dinilai bisa mencapai Rp2,1 miliar. Kesuksesan Imam panggilan akrabnya, tentu bisa menjadi contoh dan pelecut masyarakat yang ingin menjadi TKI.

Pada 2000, Imam memilih bekerja di Korea sebagai TKI. Bekerja di salah satu perusahaan swasta Korea, Imam dikontrak selama 2 tahun hingga 2002.

"Waktu itu bekerja di Korea masih melalui PJTKI, belum ada program Government to Government (G To G) BNP2TKI," jelas Imam seperti yang dirilis BNP2TKI, Rabu, 18 Agustus 2010.

Selama bekerja di Korea, Imam mendapatkan gaji sebesar Rp7,5 juta per bulan. Gaji tersebut bisa dibilang cukup besar pada waktu itu.

Ia tidak menghabiskan semua hasil keringatnya untuk biaya hidup di Korea. Setiap bulan Imam mengirim uang kepada keluarganya. Uang tersebut digunakan untuk modal usaha di kampung halaman Desa Labuan Ratu, Way Jepara, Lampung Timur.

"Awalnya saya bekerja di bagian produksi, tapi setelah bos mengetahui saya bisa mengoperasikan komputer kemudian saya dipindahkan ke bagian staf. Boleh dibilang saya termasuk orang yang mendapatkan pekerjaan enak dibandingkan dengan teman-teman TKI lainnya," cerita Imam sambil mengenang masa lalunya itu.

Seiring berjalannya waktu, akhir 2002 Imam menyelesaikan kontrak kerjanya di Korea. Ia kemudian memilih pulang ke kampung halamannya di Lampung.

Berbekal dengan modal tabungan yang dimiliki hasil bekerja di Korea, Imam kemudian mendirikan usaha yang menjual bahan alat bangunan seperti genteng, keramik, semen, cat dan lainnya. Waktu itu ia membuka usaha dengan modal awal Rp50 juta.

"Mulanya toko bangunan saya tidak besar. Tapi karena banyak pelanggan dan terus berkembang akhirnya toko menjadi seperti ini," papar Imam sambil menunjuk rukonya yang besar berlantai dua itu.

Selain masyarakat umum, sebagian besar pelanggan toko Imam adalah mantan TKI dan keluarga TKI. Tidak heran omset toko bangunan pernah mencapai Rp140 juta lebih selama tiga bulan.

"Toko ini dibesarkan oleh TKI dan dari TKI. Dan tidak heran dari semua ruko yang ada di pasar Way Jepara ini adalah mantan TKI yang kini sukses," tutur Imam yang juga aktivis TKI itu. (hs)

By korean insight with No comments

Mahfud, Buka Kursus Bahasa Korea Gratis

Sepulang dari Korea Mahfud (31) membuka kursus bahasa Korea di rumah Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Uniknya, Mahfud tidak meminta bayaran kepada calon TKI yang kursus ditempatnya alias gratis. Ia hanya ingin membagi ilmu dan pengalaman kepada CTKI.

Dua kali sudah Mahfud pergi bekerja ke Korea Selatan sebagai TKI, ia bekerja di sektor formal pada perusahaan onderdil mobil. Pada 2002 Mahfud berangkat ke Korea, setelah kontrak kerja selesai pada 2005 ia kemudian pulang ke kampung halamannya di Bima, NTB.

“Tahun pertama saya berangkat ke Korea masih melalui PPTKIS belum melalui BNP2TKI. Barulah tahun kedua saya berangkat ke Korea melalui program Government To Government (G TO G) BNP2TKI,” jelas Mahfud

Pada 2008 Mahfud berangkat kembali ke Korea lewat program G TO G BNP2TKI. Ia bekerja di perusahaan elektronik di daerah Goanjung. Saat berada di Korea, bersama teman-teman TKI lainnya ia tinggal di asrama yang telah disediakan perusahaan.

 “Gaji di Korea lumayan besar, gajik pokok perbulannya mencapai Rp 8 juta. Bila ditambah dengan lembur saya bisa dapat Rp 10 juta perbulan,” paparnya. Setelah kontrak kerja selesai pada pertengahan 2010, pria yang lahir di Bima 6 April 1979 ini kembali pulang ke kampung halamannya. Ia merasa senang bisa bekerja ke Korea karena semua hak pekerja terjaga dan terlindungi dengan baik. “Kepada teman-teman TKI saya suka menyarankan lebih baik kerja di sektor formal. Selain terjamin, gaji disektor formal juga lebih besar,” imbuhnya.
Kursus Bahasa Korea Gratis

Empat tahun lamanya berada di Korea membuat Mahfud tahu banyak tentang Korea, termasuk bahasanya. Karena kemampuan bahasa Korea yang ia miliki baik, Mahfud kemudian membuka kursus bahasa Korea di kampungnya. “Saya ingin membagi ilmu dan pengalaman kepada teman-teman TKI khususnya di Bima NTB. Mengingat penguasaan bahasa negara penempatan sangatlah penting. Penguasaan bahasa merupakan modal utama TKI,” paparnya.

Pada Juli 2010, suami dari Widianti ini kemudian membuka kursus bahasa Korea di rumahnya. Ia mengaku sudah ada 45 orang calon TKI yang kursus bahasa Korea. Meskipun masih terbilang baru, ia mengaku sudah banyak calon TKI yang ingin kursus kepadanya. “Saat ini saya tidak meminta bayaran kepada calon TKI yang ikut kursus. Saya masih ingin membagi sedikit ilmu dan pengamalan saja,” tutur Mahfud menambahlkan tujuannya membuka kursus bahasa Korea juga untuk memudahkan calon TKI belajar bahasa Korea. Jika harus belajar ke Jakarta hanya menambah biaya saja, sedangkan jika calon TKI belajar di tempat asal biaya yang dikeluarkan bisa lebih murah.

Selain membuka kursus bahasa Korea, Mahfud mengaku ingin menjadi petani. Karena itu, sepulang dari Korea ia membeli satu hektar sawah dan menggadai tiga hektar sawah lainnya. “Di sawah itu saya akan menanam padi dan kacang kedelai, sawah itu saya beli dari uang tabungan selama kerja di Korea,” pungkas Finalis Indonesian Migrant Workers ini.***Hapipi



By korean insight with No comments

Murdhani : Jangan Takut Mengais Rejeki di Luar Negeri


Sukses bisa datang pada siapa saja, tak pedulu profesi dia apa, termasuk untuk Para TKI. Itulah yang dialami oleh Akhmad Murdhani, mantan TKI Korea. Kisah suksesnya diawali dengan tekad dia untuk bisa sukses walaupun dia hanya berbekal ijazah SMA. Setelah lulus dari SMA di Mataram, dia memutuskan diri untuk langsung bekerja. Murdhani memilih untuk menjadi TKI.

Waktu itu beliau berangkat ke Korea tahun 2004 melalui PT Avida Asia bersama ke-27 rekan seangkatannya. Dari ke-27 rekannya ini, Murdhani ditemani satu orang temannya ditempatkan di di perusahaan Asia Happy Industry di Kota Cangwon, Giyongnam, Korea Selatan, sebuah pabrik yang memproduksi asesoris mesin kapal pesiar.

Ketika bekerja di Perusahaan itu, Pria kelahiran Lombok Tengah, 4 Mei 1973 ini menerima gaji pokok Rp 7 juta, belum termasuk lembur. Uang lemburnya sendiri bisa mencapai 150-200 persen dari gaji pokok perjamnya. Murdhani tiap hari lembur antara 1-4 jam. Menariknya, selama di Korea ini, Murdhani bertemu dengan Sayekti Mumpuni yang sudah jadi istrinya saat ini. “Saya bertemu dengan istri saya waktu kerja di sana, dia juga berkah dari hasil kerja saya di sana” katanya.

Setelah masa kontraknya berakhir, murdhani kembali ke Indonesia. Dia menggunakan tabungan selama dia jadi TKI untuk membuka usaha di Indonesia. Murdhani memilih membuka usaha penyewaan alat-alat pesta hasil patungan dengan istrinya. Dari sini Murdhani bisa memperkerjakan 4 orang untuk menjalankan usahanya. Selain usha penyewaan alat-alat pesta, Akhmad Murdani juga menanamkan modal pada usaha distribusi pupuk di kampung halamannya di Lombok.

Menurut Murdhani, banyak pelajaran yang diambil sewaktu dia bekerja di Korea, salah satunya adalah mengenai disiplin kerja. Orang korea memiliki disiplin kerja yang tinggi, mangkanya Pria yang saat ini tinggal di Jalan Kartini, Blora ini heran jika melihat anak-anka muda Indonesia bisa santai-santai nongkrong di warung.

Berkat usahanya selama 3 tahun bekerja di Korea, pria yang kerap diundang menjadi motivator TKI sukses ini mampu membiayai perjalanan haji Bapak ibunya, serta menambah biaya sekolah adiknya, dan membuka usaha mandiri.

Murdhani tidak lantas puas begitu saja, dia masih ingin berkelana ke Korea atau negara-negara lain seperti Australia. “Setiap pergi mengantar barang-barang, saya selalu membawa buku pelajaran bahasa Korea di dalam mobil. Bagaimanapun saya masih ingin ke Korea lagi” tegasnya.

Dia pun ingin menambah modal dan menciptakan lapangan kerja untuk para pemuda, khususnya di kampongnya. Untuk itu Murdhani selalu berpesan kepada para pemuda agar tidak takut merantau ke luar negeri. “Mari kita mencari rezeki di mana saja, bahkan sampai ke luar negeri”, pungkasnya

Sumber: kampungtki.com


By korean insight with No comments